FML. my self esteem just hit rock bottom.shes 16, im 16 too… now why cant i look like that..
(Source: v0guedreaming)
Sekarang aku (lagi-lagi) sedang menuliskan tentangmu. Aku berusaha mengingat apapun yang bisa membuatku tersenyum. Ada satu. Tunggu, banyak sebenarnya. Tapi aku memilih yang satu ini karena kamu mengatakan kalau hal itulah hal terindah yang pernah kamu terima seumur hidupmu. Itu waktu aku datang menemuimu secara tiba-tiba, tanpa memberitahumu sebelumnya. Sebelumnya, kamu pernah memintaku untuk datang menemuimu langsung ke kotamu, lalu menghamburkan pelukan ke dekapanmu. Itu sangat menyenangkan pikirku. Permintaan yang pernah berkali-kali kamu ungkapkan. Hanya saja waktu itu, aku sama sekali belum tau kapan aku bisa melakukan hal yang kamu minta itu: datang menemuimu, memberi pelukan, lalu kita terus berpelukan sambil bercerita.
Kemudian, suatu hari, saat kamu sedang sakit, permintaanmu tadi terulang lagi. Untuk yang kesekian kali kamu memintaku untuk datang menjengukmu, sekaligus merawatmu. Ahh, aku ingin sekali, biar kamu tau. Tapi bagaimana caranya. Aku di kotaku dan kamu di kotamu. Kita sangat jauh. Sampai akhirnya ketika rinduku sudah keterlaluan, pun aku ingin mematahkan semua tuduhan-tuduhanmu, tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk segera pergi ke kotamu.
Sekali lagi kukatakan, kemarin pernah beberapa kali kamu pernah memintaku datang untuk menemuimu, kemudian menjengukmu waktu sakit kemarin. Aku sebenarnya tak tau, entah itu hanya candamu atau sejenisnya, tapi lihat, akhirnya waktu itu aku datang menjengukmu kan? Maaf kalau sangat sebentar, bahkan tak lebih dari lima menit. Karena aku harus buru-buru. Oh, ya, tentang aku tak punya uang yang cukup untuk membeli tiket dadakan seperti waktu itu, itu benar. Taoi apapun caranya aku lakukan untuk mendapatkan uang yang banyak untuk membeli tiket agar bisa menemuimu.
Waktu itu aku mempertaruhkan banyak hal. Materi, waktu, dan masih banyak lagi yang tidak akan kusebutkan di sini. Semuanya hanya untuk bertemu dan memberikan kejutan buatmu. Semuanya lebih dari sekedar rindu yang selama ini aku ungkapkan untukmu. Sampai saat aku berdiri di depan rumahmu dengan berpayungkan awan yang semakin gelap (karena langit terlihat mendung), aku memanggilmu lewat Blackberry messenger, memintamu keluar dari rumah dan melihat kalau aku sedang berdiri di depan rumahmu. Aku masih ingat betul, aku sangat memperhatikan semua gerak-gerikmu. Waktu itu kamu terkejut. Begitu kamu keluar dari pintu rumah, kamu sempat masuk sebentar lagi kemudian mengintip dari jendela, memastikan apa benar-benar aku yang berdiri saat itu.
Kalimat pertama yang kuucapkan adalah, “Surprise!” dan kamu benar-benar tidak menyangka kedatanganku saat itu. Sementara aku sedang sangat terburu-buru, kamu malah sempat mengulur waktu beberapa detik. Tapi tak apa, namanya juga terkejut. Setelah melihat bahwa yang berdiri di depan pagar rumahmu saat itu benar-benar aku, kamu pun membukakan pagar dan aku memberikan kejutan yang sering kamu minta: bolu gulung keju. Dan aku mengantarkannya langsung ke depanmu. Sambil tersenyum, kemudian aku mengucapkan pamit. Semoga segera semakin sembuh ucapku. Kemudian aku pun berlalu.
Pertemuan yang sangat singkat, bahkan terlalu singkat, karena aku harus segera kembali ke kota saat itu juga. Kamu tau kalau aku tidak memberitaukan siapa-siapa kalau aku pulang-pergi dari kotaku ke kotamu dalam waktu sehari, waktu yang sangat singkat bukan? Dan aku melakukannya buatmu, untuk menunjukkan rinduku. Untuk mematahkan tuduhanmu yang sempat mengatakan kalau aku mengurangi perhatianku, mengurangi intensitas komunikasi kita.
Kupikir setelah bertemu denganmu, kita bisa seperti dulu lagi: saling menanyakan sedang apa dan di mana, saling menghabiskan waktu lewat percakapan di telepon dengan cerita-cerita konyol kemudian tertawa, saling menyemangati, saling menanyakan menu makan siang, bahkan saling mentertawakan hal-hal tak penting yang kita kerjakan.
Namun akhirnya aku sadar. Mau sekuat apapun usahaku untuk mengembalikan semuanya, mau sebanyak apapun aku berusaha untuk membuatmu tersenyum, merasa bahagia, semuanya seolah sia-sia. Bahkan dengan kedatanganku yang mempertaruhkan banyak hal tadi pun sama sekali tak bisa mengubah apapun. Kita tetap tidak bisa seperti dulu.
Akhirnya aku sadar, kalau selama ini yang rindu itu cuma aku. Akhirnya aku sadar waktu kamu bilang kalau kamu rindu aku, mungkin itu hanya sebagai sebuah ‘cara’ supaya aku tak berhenti merindukanmu. Akhirnya aku sadar, kalau kamu bukan takut kehilangan aku, tapi perhatianku. Akhirnya aku sadar, mau sebanyak dan seperti apapun usaha yang kulakukan untuk menunjukkan perasaanku, kamu tetap tidak akan tau. Bodoh sekali pikirku.
Setiap pagi aku selalu menyapamu dan menuliskan kalau aku rindu denganmu. Setiap pagi, pagiku yang pertama selalu untukmu. Entahlah kamu mungkin melakukannya dengan beberapa orang. Tapi aku hanya melakukannya untukmu. Bayangkan, setiap pagi. Iya, s.e.t.i.a.p.p.a.g.i. Aku juga belum pernah merindukan seseorang seperti aku merindukanmu. Sekali lagi, sayangnya kamu (mungkin) hanya melihat dan menganggapnya sebagai sebuah sapaan biasa.
Kata orang, kalau cinta, pasti akan membahagiakan. Aku pernah bahagia. Namun yang sering terjadi kemudian adalah nyeri dan sesak yang sudah kelewatan. Aku harus berhenti. Karena seperti yang kusampaikan tadi: mau sekuat dan sebanyak apapun usaha yang kulakukan untuk mengembalikan semuanya, bahkan untuk mengungkapkan tentang perasaanku selama ini, tidak akan mengubah kenyataan kalau kamu sudah pasti tidak melihat semua yang pernah kuperjuangkan.
Aku pernah memperjuangkan perasaanku untukmu dengan berbagai cara. Mulai dari memperhatikanmu, menuliskan apapun tentangmu, mengungkapkan betapa rindunya aku, bahkan sampai datang langsung menemuimu di kotamu, sayangnya sekalipun kamu tidak melihatnya. Bukan sekali. Beberapa kali, bahkan yang terakhir aku sampai mendatangimu hanya untuk mengantarkan kejutan yang kamu minta, itupun tak bisa kamu artikan. Kamu bodoh.
Cukup sampai di sini aku menuliskan tentangmu dulu. Aku lelah. Aku amat terlalu lelah untuk memperjuangkan segala sesuatu yang sama sekali tidak pernah kamu lihat. Harus seperti apa lagi aku mengungkapkan perasaanku? Kamu pernah memintaku untuk tidak berhenti merindukanmu dan yang kulakukan lebih dari itu. Aku pernah memperjuangkan semua yang pernah kamu rindukan. Sampai pada titik puncaknya dan aku melihat sama sekali tidak ada yang berubah, aku harus berhenti melakukan semuanya.
PS: Aku beberapa kali sudah menunjukkan perasaanku, bahkan mempertaruhakan banyak hal untuk memperjuangkan perasaanku. Sayang kamu tidak mau melihatnya.
Langitku..
Langit yang selalu aku rindukan..
Saat ini…
Aku hanya ingin kamu tau..
Bahwa aku merindukanmu (kadang) dalam keterbatasan..
Keterbatasan yang (mungkin) akan termakan oleh setiap mili jarak, penantian, pun kadang keputusasaan..
Peluk rindu dalam sebuah asa
Aku